Hampir Diculik Hantu

Hasil gambar untuk kuntilanak
Malam yang dingin, aku keluar rumah dan berlari, perasaanku gundah bercampur sedih membuatku menangis tak menentu, kakiku terus berlari namun tiba-tiba kakiku kesakitan, kakiku tertancap paku, membuatku tak bisa berlari lagi, aku membawa diriku ke tempat ayunan aku menangis karena kakiku tertancap dan hatiku menangis karena orangtuaku bertengkar lagi.
Piring dan gelas kaca pecah membuatku takut sehingga ku berlari dari rumah dan diam di ayunan ini namun
“Kenapa kau menangis nak” sapa seorang nenek yang tiba-tiba berada di dekatku.
“Aku tak apa-apa nek” kataku sedikit takut.
“Jika kau sedih, kau sedih kau bisa datang ke rumah nenek, kapan pun kau mau” kata nenek itu lagi.
“Tak apa nek, aku hanya sedikit sedih karena orangtuaku terus bertengkar” kataku sedikit mengeluarkan air mata.
“Jika kau ingin ke rumah nenek pergilah ke tempat itu” kata nenek sambil menujuk ke pohon pisang berimpit bambu yang lumayan gelap
“Baiklah terimakasih nek, nenek terlalu baik kepadaku” sambil melihat kakiku yang terluka. Namun nenek tak menjawab membuatku mengangkat kepala dan menoleh ke kiri kanan.


Aku kembali melihat rumah nenek, yaitu pohon pisang berimpit bambu yang lumayan gelap, aku kembali menangis, aku mulai mengerti, itu bukan rumah manusia namun itu rumah hantu, rumah wewegombel aku kembali menangis, menangis dasyat karena ketakutan, aku berlari dan, “Brukkkk” aku terjatuh.
Saat aku mulai mengangkat diriku kulihat wajah keriput rambut putih, kuku tajam nan panjang dan giginya tajam, aku berteriak, namun suaraku tak keluar, kakiku seperti terpaku, nenek itu memegang tanganku dan berkata “Ayolah nak, kamu tak akan sedih lagi, ketika bersamaku, di rumahku banyak teman-temanmu” kata nenek itu. Sekuat tenagaku menggerakkan tubuhku dan berlari, nenek itu tertawa membuatku takut, semakin takut.“Trakkk” aku menabrak seseorang, entah siapa yang kutabrak, aku hanya jatuh dan pingsan. Kubuka mataku, aku sudah ada di dalam rumah, kupeluk ayah dan ibu yang di samping kiri kananku sambil menangis airmataku bak hujan deras, bajuku seperti terendam banjir karena airmataku tak kunjung habis, “Maafkan ibu nak, ibu janji gak akan bertengkar lagi” kata ibuku ikut menangis. “Ayah juga, tak akan mengulanginya lagi” kata ayahku sambil memeluk ibu dan diriku yang sedang takut bercampur sedih.

Comments